Kamis, 05 Oktober 2017

Perilaku Etika dalam Bisnis

Lingkungan Bisnis yang Mempengaruhi Etika

Suatu bisnis yang dijalankan pasti memiliki tujuan untuk tumbuh dan menghasilkan. Untuk itu para pelaku bisnis patut memberikan perhatian pada faktor-faktor yang dapat mendukung tujuan tersebut, seperti lingkungan, karena etika bisnis dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan lingkungan juga dapat dipengaruhi oleh etika bisnis. 

1.    Lingkungan intern
Lingkungan intern dapat dikendalikan oleh para pelaku bisnis, sehingga dapat diarahkan sesuai dengan keinginan perusahaan. Lingkungan intern meliputi tenaga kerja, peralatan, dan lain-lain.

Contoh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dan etika para tenaga kerja, yaitu :

a)    Budaya organisasi
Mencakup lingkungan kerja, sikap manajemen terhadap karyawan, rencana pertumbuhan perusahaan, dan otonomi/pemberdayaan yang diberikan pada karyawan. Dengan memberikan nada positif dapat membantu karyawan menjadi lebih produktif dan bahagia, sedangkan nada negatif dapat menyebabkan ketidakpuasan karyawan, absen dan bahkan pencurian atau vandalisme.

b)    Ekonomi lokal
Melihat seorang karyawan dari pekerjaannya dipengaruhi oleh keadaan perekonomian setempat. Jika banyak lapangan pekerjaan dan ekonomi sedang naik, maka karyawan merasa bahagia, perilaku dan kinerja mereka menjadi lebih berbobot. Di sisi lain, saat pengangguran tinggi, karyawan menjadi takut dan cemas tentang pekerjaan mereka. Kecemasan ini mengarah pada kinerja yang lebih rendah dan penyimpangan dalam penilaian. Dalam beberapa karyawan, bagaimanapun, rasa takut kehilangan pekerjaan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan yang lebih baik.

c)    Reputasi perusahaan
Persepsi karyawan tentang bagaimana perusahaan mereka dilihat oleh masyarakat dapat mempengaruhi perilaku. Jika seorang karyawan menyadari bahwa perusahaannya dianggap curang, maka karyawannya juga curang. Namun, jika perusahaan dipandang sebagai perusahaan baik, maka karyawannya cenderung untuk menunjukkan perilaku serupa (perilaku baik).

d)    Persaingan di Industri
Tingkat daya saing dalam suatu industri dapat berdampak etika dari kedua manajemen dan karyawan. Di dalam industri untuk menarik pelanggan baru bukan merupakan masalah, karena karyawan tidak termotivasi untuk menggunakan etika, sehingga mereka melupakan etika untuk mengejar keuntungan.

2.  Lingkungan Ekstern
Lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada diluar kegiatan bisnis yang tidak mungkin dapat dikendalikan oleh para pelaku bisnis sesuai dengan keinginannya. Pelaku bisnislah yang harus mengikuti ”kemauan” lingkungan ekstern tersebut, agar kegiatan bisnis bisa ”selamat” dari pengaruh lingkungan tersebut. Lingkungan ekstern meliputi lingkungan mikro, yaitu pemerintah, pesaing, publik, stockholder, dan konsumen, dan lingkungan makro, yaitu demografi, sosial politik, dan sosial budaya.

Perubahan lingkungan bisnis yang semakin tidak menentu dan situasi bisnis yang semakin komperatif menimbulkan pesaingan yang semakin tajam, ini di tandai dengan semakin banyaknya perusahaan milik pemerintah atau swasta yang didirikan baik itu perusahaan berskala besar, perusahaan menengah, maupun perusahaan berskala kecil. Perilaku karyawan dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar bisnis.

Contohnya dari lingkungan bisnis yang mempengaruhi etika: produk-produk hasil hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga.


Kesaling - tergantungan antara Bisnis dan Masyarakat

Bisnis melibatkan hubungan ekonomi dengan banyak kelompok orang yaitu pelanggan, tenaga kerja, stockholders, suppliers, pesaing, pemerintah dan komunitas, sehingga bisnis dan masyarakat memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan tersebut membawa etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnis, meliputi etika antara sesama pelaku bisnis dan etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat.

Bisnis selalu berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Seperti halnya manusia pribadi juga memiliki etika pergaulan antar manusia dan masyarakat luas, maka pergaulan bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis. Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain adalah :

1.    Hubungan antara bisnis dengan langganan/konsumen
Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik. Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya saja :
- Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan             atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
- Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi                   didalamnya,
- Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat       etis bagi suatu bisnis.

2.    Hubungan dengan karyawan
Manajer pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment), Latihan (training), promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan/PHK (pemutusan hubungan kerja). Didalam menarik tenaga kerja haruslah dijaga adanya penerimaan yang jujur sesuai dengan hasil seleksi yang telah dijalankan. Sering kali terjadi hasil seleksi tidak diperhatikan akan tetapi yang diterima adalah peserta atau calon yang berasal dari anggota keluarga sendiri.

3.    Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor. Dalam kegiatan sehari-hari tentang hubungan tersebut sering terjadi benturan-benturan kepentingan antar kedunya. Dalam hubungan itu tidak jarang dituntut adanya etika pergaulan bisnis yang baik.

4.    Hubungan dengan Investor
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. Informasi yang tidak jujur akan menjerumuskan para investor untuk mengambil keputusan investasi yang keliru. 

5.    Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial. Laporan finansial tersebut haruslah disusun secara baik dan benar sehingga tidak terjadi kecendrungan kearah penggelapan pajak atau sebagianya. Keadaan tersebut merupakan etika pergaulan bisnis yang tidak baik.

Kepedulian Pelaku Bisnis terhadap Etika
Mungkin ada sebagian masyarakat yang belum mengenali apa itu etika dalam berbisnis. Bisa jadi masyarakat beranggapan bahwa berbisnis tidak perlu menggunakan etika. Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya pasti tujuan utamanya adalah untuk memperoleh keuntungan. Didalam bisnis tidak jarang berlaku konsep menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan tercela ditempuh demi pencapaian suatu tujuan, seperti tidak memperhatikan sumber daya alam dan korupsi, sehingga mereka terjerumus kearah yang menyimpang demi mendapatkan sebuah keuntungan yang besar. Oleh sebab itu etika bisnis diperlukan didalam sebuah perusahaan. Etika bisnis adalah perilaku etis atau tidak etis yang dilakukan oleh pimpinan, manajer, karyawan, agen, atau perwakilan suatu perusahaan.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah

1. Pengendalian diri
Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis".

2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

4. Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.

5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.

8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan, yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua etika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.

10. Menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
Jika etika ini telah di miliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini.

Perkembangan dalam etika bisnis
Berikut perkembangan etika bisnis
1. Situasi Dahulu
Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.

2. Masa Peralihan
Tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility.

3. Etika Bisnis Lahir di AS
Tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.

4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa
Tahun1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN).

5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global
Tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

Etika bisnis dan Akuntan
Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas.

Referensi
Modul Kuliah Etika Propesi Akuntansi. 2008. Universitas Gunadarma. 


Sabtu, 30 September 2017

Etika Sebagai Tinjauan

Pendahuluan
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, di perlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Pengertian Etika 
Etika berasal dari Bahasa Yunani Kuno yaitu "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan". Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan masyarakat (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989).
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya untuk menjadi standar penilaian moral seseorang di dalam kelompok sosialnya serta menegaskan apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.


Prinsip – prinsip Etika
Ada enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu prinsip keindahan, prinsip persamaan, prinsip kebaikan, prinsip keadilan, prinsip kebebasan, dan prinsip kebenaran.
Dibawah ini akan dijelaskan masing-masing dari prinsip-prinsip etika : 
1.   Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.

2.   Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskriminatif atas dasar apapun.

3.   Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat- menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat.

4.   Prinsip Keadilan
Kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.

         5.   Prinsip Kebebasan
Sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai:  
- kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan
- kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksana-kan pilihannya tersebut             
- kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya

6.   Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.

Semua prinsip yang telah diuraikan diatas merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.


Basis Teori Etika
1.  Etika Teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “telos” yang memiliki arti tujuan. Dalam hal mengukur baik buruknya suatu tindakan yaitu berdasarkan tujuan yang akan dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tidakan yang telah dilakukan. Dalam teori teleologi terdapat dua aliran, yaitu :

a)  Egoisme etis
Inti pandangan dari egoisme adalah tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri.

Contoh Egoisme etis : A adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan dia sangat tekun dalam bekerja. Namun meski begitu, A adalah seseorang yang pelit dan hanya menggunakan uang hasil kerja kerasnya untuk bersenang-senang atau kepentingannya sendiri. 

b)  Utilitarianisme berasal dari bahasa Latin yaitu “utilis” yang memiliki arti bermanfaat.
Menurut toeri ini, suatu perbuatan memiliki arti baik jika membawa manfaat bagi seluruh masyarakat ( The greatest happiness of the greatest number ). Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.

Prinsip dasar utilitarianisme adalah : 
a. Manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar diterapkan pada perbuatan 
b. Aturan membatasi diri pada justifikasi aturan-aturan moral 

Contoh Utilitarianisme : B adalah seseorang yang pintar dan rajin belajar. Berkat itu pula, B bisa mendapatkan beasiswa di universitas terbaik. Namun, B adalah orang yang sangat baik. Dia tak segan-segan untuk mengajarkan ke temannya bila temannya tidak mengerti pelajaran yang dipelajari di universitasnya. 

2. Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “deon” yang berarti sesuatu yang harus dilakukan atau kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Menurut  Immanuel Kant bahwa seseorang harus bertindak berdasarkan kewajibannya (deon) bila ingin berbuat sesuatu yang benar secara moral.

Contoh Deontologi : C berkeinginan menjadi seorang guru karena dia senang mengajar dan keinginan tersebut telah tercapai. C menjadi seorang guru di salah satu SMA di dekat rumahnya. Dan C memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak sekolahnya agar menjadi anak yang pintar dan berprestasi. 

3. Teori Hak
Dalam pemikiran moral saat ini, teori hak merupakan pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori hak ini merupakan suatu aspek dari teori deontologi karena berkaitan dengan kewajiban. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia adalah sama. Oleh karena itu, hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.

Contoh Teori Hak : Seorang anak memiliki hak untuk memilih dan menentukan apa mimpi dan cita-cita yang ingin diraih sesuai keinginannya dan bagaimana cara anak tersebut mewujudkannya asal masih dalam hal hal positif. 

4. Teori Keutamaan ( Virtue )

Dalam teori keutamaan memandang sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan seseorang untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh sifat yang dilandaskan oleh teori keutamaan yaitu kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras dan hidup yang baik.


Egoism
Menurut Rachels (2004:146) arti egoism adalah teori mengenai bagaimana kita seharusnya bertindak, tanpa memandang bagaimana kita biasanya bertindak. Menurut teori ini hanya ada satu prinsip perilaku yang utama, yakni prinsip kepentingan diri, dan prinsip ini merangkum semua tugas dan kewajiban alami seseorang.
Egoism adalah suatu bentuk ketidak-pedulian kepada orang lain. Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yang bersifat vulgar.

Minggu, 23 Juli 2017

Cara supaya nomor halaman 1 dibawah dan halaman 2 di pojok kanan atas

1. Beri halaman pada file anda ( Insert -> Page Number ->  pilih Top of Page -> Plain Number 3 )



2. hasilnya tampak seperti dibawah ini


Jika di klik 2x pada bagian header maka hasilnya seperti ini 



3. Klik 2x di halaman 1 pada bagian header / footer lalu akan muncul ribbon baru bernama Header & Footer Tools. Kemudian ceklis pada kotak Different First Page pada tab Design. setelah di    ceklis maka ada 2 perubahan yaitu :

    a) nomor pada halaman 1 hilang



    b) perubahan dari Header- Section 1 menjadi First Page Header-Section 1



4. Setelah nomor halaman 1 hilang, maka kita buat ulang lagi nomornya. misal kita pilih yang bottom of page -> Plain Number 2 



    setelah di klik maka secara otomatis muncul nomer 1 di bagian bawah halaman 


5. Maka anda telah selesai membuat nomer halaman 1 di bawah dan nomor halaman 2 di pojok kanan atas  



Sabtu, 22 Juli 2017

Cara membuat new section di word 2016

1. Buka Ms.Word, disini saya menggunakan 3 halaman
2. Klik menu layout yang ada di ribbon, lalu pilih Break ->  Break Next Page



3. Maka anda telah selesai memberi new section pada halaman.
   (untuk mengeceknya, klik 2x pada bagian header, lalu akan muncul nomernya. untuk lebih jelas lihat gambar dibawah ini)

a) sebelum menggunakan new section


b) sesudah menggunakan new section 



Referensi: http://www.dummies.com/software/microsoft-office/word/how-to-insert-a-section-break-in-word-2016/



Senin, 17 Juli 2017

Final assignment of bahasa Inggris bisnis 2

Name: Lolanda Femilia 
Class: 3EB06
NPM: 26214134

TECH & SCIENCE
THIS KANGAROO-EATING MAINE COON MAY BE WORLD’S LONGEST CAT


BY DOUGLAS MAIN ON 5/17/17 AT 6:37 PM

Meet Omar the cat. He is a breed known as a Maine coon cat, owned by Stephy Hirst, of Melbourne, Australia. He may be the world’s longest cat.

Hirst told the BBC that Omar measures 3 feet 11 inches (120 centimeters) in length, which would make him the longest cat in the world. The current record-holder is a cat named Ludo, from West Yorkshire in the United Kingdom, who measures 3 feet 10.59 inches (118.33 centimeters). Hirst says she has submitted the measurements to Guinness but the record hasn’t yet been confirmed.

Omar has a unique diet, as his owners feed him raw kangaroo meat for dinner. "We buy human-grade kangaroo meat at the supermarket," Hirst told the BBC. "It's the only meat we could find that he actually wants to eat."

Answer:


Ø  TITLE

   THIS KANGAROO-EATING MAINE COON MAY BE WORLD’S LONGEST CAT
             O                          V                    s                           complement

Elements:
This Kangaroo = Noun (Commoun noun)
Eating = Gerund 
Maybe = Modal auxiliary verb
Longest = Superlative degree 

Ø  PARAGRAPH 1 
Meet Omar the cat. He is a breed known as a Maine coon cat, owned by Stephy Hirst, 
  V              O           S  V                          O                                   COMPLEMENT 

of Melbourne, Australia. He may be the world’s longest cat.
    COMPLEMENT        S       V        COMPLEMENT 

Analyses :
First sentence: a sentence containing three independent clauses but separate by punctuation.

Independent clause I: Meet Omar the cat
Independent clause II: He is a breed known as a Maine coon cat, owned by                        Stephy Hirst, of Melbourne, Australia.
Independent clause III: He may be the world’s longest cat
     
=> Meet Omar the cat. He is a breed known as a Maine coon cat, owned by    Stephy Hirst, of Melbourne, Australia. He may be the world’s longest    cat.

The sentence above in accordance with the type of compound sentences. Compound sentences is sentence containing two or more independent clauses and no dependent clause. The independent clauses connected with coordinator conjunction such as for, and, nor, but, or, yet, so or also with punctuation like semicolon (;) or comma (,). In this case compound sentences with coordinator ‘punctuation’.

Element:
Meet = Verb
Omar the cat = Object
He = Pronoun    
Is = Verb to be
as = Conjunction
a maine coon cat = Article (indefinity article)
owned by stepy hirst = Passive voice  
of = Preposition
Melbourne, Australia = Adverb of place
He = Pronoun  
Maybe = Modal auxiliary verb
Omar the cat = Object
The world’s = Article (Definity article)
Longest = Superlative degree

Ø  PARAGRAPH 2
Hirst told the BBC that Omar measures 3 feet 11 inches (120 centimeters) in length, 
  S       V         O               S           V                               Complement

which would make him the longest cat in the world. The current record-holder is 
                    V          O                 Complement                                  S               V                

a cat named Ludo, from West Yorkshire in the United Kingdom, who measures 
                 O                                 Complement                                            V               

3 feet 10.59 inches (118.33 centimeters). Hirst says she has submitted
                 Complement                              S                   V                          

 the measurements to Guinness but the record hasn’t yet been confirmed.
           V                             O                   S                    Complement 

Analyses:
First sentence: a sentence containing one independent clause and two dependent clauses. The dependent clause begins with relative pronoun.

Independent clause: Hirst told the BBC
Dependent clauses I:  Omar measures 3 feet 11 inches (120 centimeters) in length
Dependent clauses II: would make him the longest cat in the world’s
     
=> Hirst told the BBC that Omar measures 3 feet 11 inches (120 centimeters) in length, which would make him the longest cat in the world.

The sentence above in accordance with the type of complex sentences. Complex sentences is sentences containing one independent clauses and one or more dependent clauses. The dependent clauses connected with sub-ordinate conjunction. In this case sub-ordinate conjunction used is ‘that’ and ‘which’.

Elements:
Hirst told the BBC: Active Voice
That: Relative Pronoun
In length: Preposition
Which: Relative Pronoun
Would: Modal Auxiliary Verb
Make: Causative Verb
Him: Pronoun
Longest: Superlative degree
Cat: noun (common noun)
In the world: adverb

Second sentence: a sentence containing one independent clause and two dependent clauses. The dependent clause begins with relative pronoun.

Independent clause: The current record-holder is a cat named Ludo
Dependent clause I: from West Yorkshire in the United Kingdom
Dependent clause II: measures 3 feet 10.59 inches (118.33 centimeters)

=>The current record-holder is a cat named Ludo, from West Yorkshire in the United Kingdom, who measures 3 feet 10.59 inches (118.33 centimeters).

The sentence above in accordance with the type of complex sentences. Complex sentence is sentence containing one independent clause and one or more dependent clauses. The dependent clauses connected with sub-ordinate conjunction. In this case sub-ordinate conjunction used is ‘who’.

Elements:
The current record-holder: Subject
Is: Verb to be
A cat: articles (indefinite articles)
From: Preposition
West Yorkshire: Adverb of place
In: Preposition
The United Kingdom: Article (Definite Article)

Third sentences: a sentence containing two independents and connected with coordinator conjunction.
Independent clauses I: Hirst say she has submitted the measurement to Guinness
Independent clauses II: The record hasn’t yet been confirmed
     
=> Hirst say she has submitted the measurement to Guinness but the record hasn’t yet been confirmed.

The sentence above in accordance with the type of compound sentences. In this case compound sentences with coordinator ‘but’.

Elements:
Hirst: Subject
Say: Verb
She: Pronoun
Has submitted: Auxiliary Verb
The measurement to Guinness: Object
But: Conjunction
The record: Subject
Hasn’t: Auxiliary Verb
Yet: Conjunction
Been: Linking Verb

Ø  PARAGRAPH 3

Omar has a unique diet, as his owners feed him raw kangaroo meat for dinner. 
    S     V            O                      S           V    O                    Complement   

"We buy human-grade kangaroo meat at the supermarket," Hirst told the BBC. 
                                 Direct speech                                            Active voice

"It's the only meat we could find that he actually wants to eat."
                               Direct speech    

Analyses:
First sentence: The sentence containing one independent clause and one dependent clause. The dependent clause connected with sub-ordinate conjunction.

Independent clause: Omar has a unique diet
Dependent clause: his owners feed him raw kangaroo meat for dinner

=> Omar has a unique diet, as his owners feed him raw kangaroo meat for dinner.

The sentence above in accordance with the type of complex sentences. In this case sub-ordinate conjunction used is ‘as’

Elements:
Omar: Noun 
Has: Verb 
A unique: adjective 
Diet: Object
As: Conjunction 
His: Pronoun
For: Preposition
Dinner: Adverb 

Second and three sentences: The sentence above included the characteristics of direct speech. 
These characteristics can be seen from the quotation marks, and the sentence always begin with a capital letter. That's in intent with the direct speech. Direct speech is the original quote in a 
conversation, without any changes.

=> "We buy human-grade kangaroo meat at the supermarket," 
=> "It's the only meat we could find that he actually wants to eat."